ELHARAMAIN NEWS – Wisatawan muslim kini punya banyak pilihan destinasi, tetapi kenyamanan beribadah dan kepastian makanan halal tetap menentukan. Pakar pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, mendorong agen perjalanan dan operator tur menyusun paket wisata ramah muslim dengan memetakan kebutuhan wisatawan sejak awal hingga akhir perjalanan, sebagaimana dilaporkan ANTARA pada Kamis (8/10/2026).
“Intinya bukan hanya sebagai label halal tour pada brosur, tapi yang paling penting halal assurance through the visitor journey (jaminan halal sepanjang perjalanan wisata),” kata Sari saat dihubungi ANTARA di Jakarta. Menurutnya, pemetaan kebutuhan itu dapat dituangkan dalam rencana perjalanan (itinerary), mulai dari restoran dengan status halal yang jelas, waktu dan lokasi shalat, akses menuju masjid, kebersihan fasilitas, hingga akomodasi dan layanan ramah muslim.
Paket perjalanan, lanjut Sari, juga perlu memuat jadwal shalat, informasi halal, dan titik pemberhentian makan dan minum (F&B stop). Ia menyarankan asosiasi perjalanan bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan pemerintah mencoba menyusun paket tur ramah muslim, tetapi tidak dibuat terlalu kaku agar wisatawan tetap dapat menikmati beragam atraksi seperti pantai, alam, belanja, kebugaran, dan pengalaman kreatif. “Jadi halal itu lebih ke service assurance (jaminan layanan), bukan pembatasan pengalaman wisata,” ujarnya.

Sari menambahkan, layanan ramah muslim dapat dikembangkan lewat fasilitas pendukung seperti tempat wudu yang ramah penggunaan air, layanan Ramadan, dan informasi waktu shalat. Informasi tersebut juga perlu tersedia secara digital karena teknologi dan kecerdasan buatan semakin memengaruhi keputusan wisatawan. “Harus ada informasi halal, restoran, tempat ibadah, hotel, juga harus masuk Google Maps, harus bisa masuk dalam aplikasi agen perjalanan daring (OTA) berbasis AI,” katanya. Menurutnya, tahapannya bukan sekadar sertifikasi halal, tetapi juga akses terhadap informasi halal secara digital.
Dalam laporan ANTARA sehari sebelumnya, Sari juga menilai sertifikasi halal dapat menjadi sinyal kepercayaan bagi wisatawan muslim. Namun ia menekankan bahwa wisata halal tidak sama dengan wisata religi, karena yang ditambahkan adalah layanan dan kepastian bagi wisatawan muslim. Upaya serupa di dalam negeri dapat dibaca dalam Kemenpar Targetkan Produk UMKM 1.500 Desa Wisata Bersertifikat Halal dan Kemenpar Kembangkan 15 Provinsi Destinasi Ramah Muslim.
Hingga berita ini disusun, pernyataan tersebut merupakan pandangan pakar dan belum merupakan standar resmi pemerintah untuk paket tur ramah muslim, sehingga ketersediaan layanan di tiap destinasi perlu dicek langsung.
Bagi wisatawan muslim dan calon jemaah yang berencana menggabungkan ibadah dengan wisata, tanyakan sebelum berangkat apakah itinerary memuat waktu shalat, restoran dengan status halal yang jelas, dan akses ke masjid. Simpan pula peta lokasi masjid dan restoran halal di ponsel sebagai cadangan.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.















Satu pemikiran pada “Paket Wisata Ramah Muslim Bukan Sekadar Label Halal, Pakar: Jaminan Halal Sepanjang Perjalanan”
Komentar ditutup.