ELHARAMAIN NEWS – Muzdalifah, hamparan terbuka di antara Makkah dan Mina, adalah tempat jemaah haji bermalam seusai wukuf di Arafah. Di kawasan ini berdiri Masjid Masy’aril Haram, penanda tempat Rasulullah SAW berzikir dan berdoa pada Haji Wada.
Menurut NU Online, nama Muzdalifah berasal dari kata al-izdilaf yang bermakna berkumpul. Penamaan itu dikaitkan dengan sunnah menjamak salat Magrib dan Isya di sana, sementara pendapat lain menghubungkannya dengan pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Luasnya sekitar 12,25 kilometer persegi dan berdekatan dengan Wadi Muhassir, lembah yang tidak termasuk wilayah Muzdalifah.
Al-Qur’an menyebut tempat ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 198: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram.” Dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Aku berwukuf di sini, dan seluruh Jam’ (Muzdalifah) adalah tempat wukuf.”
Catatan sirah Haji Wada di NU Online menyebutkan, selepas Magrib 9 Zulhijah Rasulullah SAW berangkat dari Arafah ke Muzdalifah dengan dibonceng Usamah bin Zaid, lalu menjamak Magrib dan Isya. Seusai Subuh 10 Zulhijah, beliau menuju al-Masy’ar al-Haram untuk berdoa dan bertalbiyah. Menjelang matahari terbit, beliau bertolak ke Mina dibonceng al-Fadhl bin Abbas, yang diminta mengumpulkan tujuh kerikil untuk Jumrah Aqabah.
Masjid Masy’aril Haram, yang juga disebut Masjid Muzdalifah, terletak di tengah perjalanan antara Arafah dan Mina. detikHikmah menyebut masjid itu diperkirakan baru berdiri setelah tahun 300 Hijriah. Mengutip buku Jejak Sejarah di Dua Tanah Haram karya Mansya Aji Putra, laman itu mencatat jarak masjid sekitar 5 kilometer dari Masjid al-Khaif di Mina dan 7 kilometer dari Masjid Namirah di Arafah. Luasnya bertambah dari sekitar 1.700 meter persegi menjadi 4.000 meter persegi pada masa Abbasiyah, dan kini sekitar 6.000 meter persegi dengan daya tampung 12.000 jemaah.
Jumhur ulama menghukumi mabit di Muzdalifah wajib, dengan waktu sejak awal malam 10 Zulhijah hingga terbit fajar. Ustaz Abdul Muiz Ali, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, dalam tulisannya di NU Online mengutip pendapat Syekh Nawawi Al-Bantani bahwa kewajiban itu cukup ditunaikan sesaat setelah tengah malam. Keringanan juga berlaku bagi jemaah sakit, lanjut usia, berisiko tinggi, atau petugas yang melayani jemaah. Kiprah ulama Banten itu di Makkah pernah diulas dalam laporan Syekh Nawawi Al-Bantani.
Bagi calon jemaah haji, Muzdalifah adalah mata rantai antara Arafah dan Mina. Siapkan alas tidur tipis dan kantong kecil untuk kerikil, isi malam dengan zikir dan doa, lalu ikuti jadwal pergerakan bus dari petugas agar tidak terpisah dari rombongan.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.














