Masjid Raya Sumatera Barat di Padang, Wisata Religi Beratap Gonjong Bernama Syekh Ahmad Khatib

elharamaindigital

Bangunan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi atau Masjid Raya Sumatera Barat di Padang dengan atap bergonjong khas Minangkabau
Foto: Undeka 11/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

ELHARAMAIN NEWS – Masjid Raya Sumatera Barat di Padang menjadi tujuan wisata religi di Ranah Minang berkat atap gonjong yang menggantikan kubah. Sejak Juli 2024, masjid itu menyandang nama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama Minang yang pernah menjadi imam besar Masjidil Haram.

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Mahligai Minang ini berada di Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara. Menurut detikSumut, batu pertamanya diletakkan Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi, pada 21 Desember 2007, dan pembangunannya rampung pada 4 Januari 2019. Pengerjaannya berlangsung bertahap karena mengandalkan APBD provinsi, dan sebagian dana sempat dialihkan untuk rehabilitasi pascagempa 2009.

Bangunan tiga lantai itu berdiri di atas lahan sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama sekitar 18.000 meter persegi. Daya tampungnya sekitar 20.000 jemaah, 15.000 di antaranya di lantai dasar. Halamannya yang luas disiapkan untuk parkir sekitar 600 mobil, taman, serta area evakuasi tsunami, dan masjid ini dirancang tahan gempa.

Rancangannya lahir dari sayembara tahun 2007 yang diikuti 323 arsitek dari berbagai negara dan dimenangkan Rizal Muslimin, arsitek yang disebut sebagai dosen senior di University of Sydney. Laporan detikFinance menyebut bentuk bangunannya menggambarkan kain yang dibawa empat perwakilan kabilah di Makkah saat meletakkan Hajar Aswad, dengan masing-masing memegang satu sudutnya. Dinding luarnya dihiasi ukiran Minang dan kaligrafi.

Dinding berukiran Minangkabau dan ujung atap gonjong Masjid Raya Sumatera Barat diterangi lampu pada malam hari, dengan menara masjid di sisi kanan

Desain tersebut mengantarkan masjid ini menjadi salah satu dari tujuh masjid peraih Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture siklus ketiga, yang bertema arsitektur masjid di abad ke-21. Penghargaan yang didirikan pada 2011 itu menilai aspek arsitektur, perkotaan, dan teknis masjid di berbagai negara.

Nama baru masjid diresmikan pada Minggu (7/7/2024), bertepatan dengan 1 Muharram 1446 H. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyebut Syekh Ahmad Khatib sebagai imam besar di Masjidil Haram dan mufti di Arab Saudi. “Maka dari itu, kita pilih nama beliau menjadi nama Masjid Raya Sumbar,” ujar Mahyeldi, seperti dikutip detikSumut. Peresmian itu dihadiri 58 anggota keluarga besar Syekh Ahmad Khatib dari Arab Saudi.

Kepala Biro Kesra Setdaprov Sumbar, Al Amin, kepada Antara menjelaskan, sebutan “Masjid Raya” sebelumnya hanya menunjukkan tipologi dan provinsi, sehingga masjid itu belum memiliki nama sendiri. Gagasan pemberian nama sudah muncul sejak era Gubernur Gamawan Fauzi dan dilanjutkan oleh Gubernur Mahyeldi. Kiprah ulama Nusantara lain di Masjidil Haram dapat dibaca dalam laporan tentang Syekh Nawawi Al-Bantani.

Hingga tulisan ini disusun, belum ada keterangan resmi terbaru tentang jam kunjungan wisatawan. Pengunjung sebaiknya menyesuaikan kedatangan dengan waktu salat dan menanyakan aturan kunjungan kepada pengurus masjid setibanya di lokasi.

Bagi calon jemaah umrah dan haji asal Sumatera Barat, singgah di masjid ini bisa menjadi pengantar mengenal jejak ulama Minang di Makkah sebelum berangkat. Kenakan pakaian yang menutup aurat, datang pada sore hari untuk melihat bangunan dengan cahaya yang lebih lembut, dan jaga ketenangan di ruang salat. Ulasan wisata religi lain dapat dibaca dalam tulisan tentang Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.

Related Post