Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Wisata Religi sejak 1612 yang Bertahan dari Tsunami 2004

elharamaindigital

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dengan kubah hitam dan halaman luas di bawah langit biru

ELHARAMAIN NEWS – Di antara destinasi wisata religi di Indonesia, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh menempati tempat istimewa. Masjid yang menjadi ikon ibu kota Provinsi Aceh ini bukan hanya tempat salat, melainkan juga saksi perjuangan rakyat Aceh dan salah satu bangunan yang bertahan dari tsunami 2004.

Menurut Republika, masjid ini didirikan pada masa Sultan Iskandar Muda, yang membawa Kesultanan Aceh pada puncak kejayaan, sejak 1022 Hijriah atau 1612 Masehi. Sultan menamainya Masjid Raya. Banyak ahli sejarah dan arsitektur menilainya prototipe banyak masjid di Indonesia dan Malaysia, sedangkan Abdul Baqir Zein dalam buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia menyebutnya salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Sejak awal, masjid ini juga menjadi pusat musyawarah para pejuang untuk menyusun perlawanan terhadap Belanda. Republika mencatat masjid terbakar saat diserang pasukan Belanda pada April 1873, dalam pertempuran yang menewaskan seorang petinggi pasukan kolonial, Mayjen Khohler. Belanda kemudian berjanji membangunnya kembali, peletakan batu pertama dilakukan pada Oktober 1879 oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, dan sekitar tiga tahun berselang masjid itu berdiri dengan satu kubah.

Pada 1935, kompleks masjid diperluas dengan tambahan dua kubah di sisi kanan dan kiri. Presiden Soekarno, menurut Republika, menamai menara utama masjid ini Tugu Aceh Daerah Modal Republik Indonesia karena menilai besarnya jasa rakyat Aceh bagi pembangunan nasional.

Dari sisi wisata, Kompas.com menulis bahwa masjid di Jalan Mohammad Jam Nomor 1, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, ini termasuk bangunan yang “selamat” dari tsunami 26 Desember 2004, meski beberapa sisinya mengalami kerusakan. Pengunjung dapat salat di dalam masjid atau sekadar berfoto di halaman dengan latar bangunan. Pada Ramadan 2024, masjid ini bahkan menghadirkan imam dan penceramah berbeda setiap hari untuk salat tarawih.

Pemerintah juga tengah mengembangkan Aceh sebagai bagian dari destinasi ramah Muslim, sebagaimana diberitakan dalam liputan tentang 15 provinsi destinasi ramah Muslim. Hingga berita ini disusun, jam kunjungan dan aturan berpakaian dapat berubah, sehingga wisatawan disarankan memeriksa informasi terbaru dari pengelola masjid atau dinas pariwisata setempat.

Bagi calon jemaah yang ingin mengisi waktu sebelum berangkat umrah atau haji dengan wisata religi dalam negeri, kunjungan ke masjid bersejarah seperti ini dapat menjadi latihan berjalan kaki sekaligus menambah wawasan sejarah Islam di Nusantara. Kenakan busana sopan, bawa sajadah dan botol minum, serta hormati waktu salat saat berkunjung.

Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.

Related Post