ELHARAMAIN NEWS – Ibadah haji bukan sekadar rangkaian ritual fisik, perpindahan raga dari Tanah Air ke Tanah Suci, atau hitung-hitungan biaya perjalanan. Haji adalah perjalanan spiritual yang menuntut penghayatan nilai dan kesiapan jiwa yang mandiri. Pesan itu ditegaskan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jambi, Dr. H. Wahyudi Abdul Wahab, M.Fil.I.
Sebagaimana ditulis dalam tulisan opininya di situs Kemenhaj Jambi, Wahyudi menyampaikan hal itu saat memberi pembekalan dalam sosialisasi penyelenggaraan ibadah haji bersama Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Hasan Basri Agus, kepada calon jemaah pada pertengahan Oktober 2026. Ia mengajak jemaah meresapi esensi di balik setiap rukun dan wajib haji, bukan sekadar menjalaninya secara mekanis atau terdistraksi rutinitas duniawi.
Wahyudi mengingatkan agar momen sakral seperti tawaf dan sa’i tidak kehilangan makna akibat kebiasaan bercengkerama yang kurang pada tempatnya. “Semua tahapan itu terselenggara dengan baik dengan nilai. Orang tawaf itu ada nilai dalam dirinya, sehingga wajar ada orang tawaf menangis, ada orang sa’i sambil menangis. Kenapa? Dia terbayang bagaimana perjuangan para nabi-nabi untuk sampai terbangunnya Baitullah, dia terbayang bagaimana Ismail bayi ketika dia sa’i,” tuturnya.
Renungan ini sejalan dengan kisah di balik sa’i. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 158, Safa dan Marwah disebut sebagai bagian dari syiar Allah, dan kisah Siti Hajar yang berlari mencari air untuk Ismail menjadi latar yang sering dirujuk para ulama, sebagaimana kami uraikan dalam artikel tentang sumur Zamzam. Berlari kecil di antara dua bukit itu bukan hanya gerak badan, melainkan latihan batin untuk berikhtiar sekaligus berserah.
“Bagaimana sa’i itu melahirkan sebuah semangat baru: ‘Ya Allah, Engkau pernah kasih jalan keluar kepada Nabi-Mu, kepada anak-anak Nabi-Mu, dan beri jalan keluar lebih kesulitan kami.’ Wajar kalau orang-orang itu pernah menangis. Manasik haji membangun itu. Inilah yang dibangun oleh Kementerian Haji, membangun haji mandiri bagi jemaah, kapan pun dia berangkat, dia siap,” kata Wahyudi.
Kemandirian itu, menurutnya, menjadi pilar yang terus dibangun, termasuk kesiapan menghadapi berbagai situasi di lapangan. Pesan serupa tentang niat dan keikhlasan juga pernah kami angkat dalam renungan niat yang lurus bagi calon jemaah dan pesan istiqamah pascahaji.
Perlu dicatat, tulisan Wahyudi merupakan opini pejabat Kemenhaj yang menyarikan pembekalannya, bukan fatwa. Soal hukum rinci tawaf dan sa’i tetap merujuk pada pembimbing ibadah dan ulama yang kompeten.
Bagi calon jemaah, pesan ini dapat dipraktikkan sejak di Tanah Air: pelajari manasik bukan hanya urutan geraknya, tetapi juga makna di baliknya, dan niatkan setiap putaran tawaf serta langkah sa’i sebagai latihan sabar, optimis, dan tawakal. Wallahu a’lam bisshawab.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.














