Hari Khidmat Kemenhaj dan Jejak Tokoh Haji Nusantara: Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Samanhudi

elharamaindigital

Pejabat Kementerian Haji dan Umrah berpidato di podium berlambang Garuda pada peringatan Hari Khidmat
Foto: Kementerian Haji dan Umrah RI

ELHARAMAIN NEWS – Peringatan Hari Khidmat Haji dan Umrah di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menjadi pengingat bahwa sejarah haji di Indonesia tidak lepas dari perjalanan para tokoh bangsa. Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, dan Haji Samanhudi sebagai tokoh pergerakan nasional yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi haji sekaligus perjuangan membangun bangsa.

Hal itu disampaikan Dahnil dalam agenda Doa dan Zikir Hari Khidmat Haji dan Umrah di Kantor Kemenhaj, Jakarta, Senin (14/9/2026), sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi Kementerian Haji dan Umrah. Menurut dia, Hari Khidmat diperingati pada 8 September karena bertepatan dengan lahirnya Kemenhaj yang ditandai pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah.

“Hari ini, lebih dari 5.000 ASN telah menjadi bagian dari Kemenhaj. Kita hadir untuk bersama-sama melayani dan berkhidmat kepada jemaah,” ujar Dahnil. Ia juga menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan pada momentum tersebut merupakan simbol untuk mengingat peran para tokoh haji dalam sejarah perjuangan Indonesia. “Para pendiri bangsa memiliki jejak yang kuat dengan tradisi haji. Karena itu, pakaian ini menjadi simbol kebangsaan, perjuangan, kemerdekaan, pendidikan, nasionalisme, dan religiusitas,” katanya.

Rilis tersebut tidak merinci perjalanan haji masing-masing tokoh. Untuk latar sejarahnya, ulasan Kompas.com dan Republika mencatat bahwa Haji Samanhudi, pengusaha batik di Solo, dikenal sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam. Sumber-sumber berbeda dalam menyebut tahun berdirinya, antara 1905 dan 1911. Organisasi itu kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam pada 10 September 1912, dan pada 1913 Samanhudi menyerahkan kursi ketua kepada HOS Tjokroaminoto.

Tjokroaminoto, yang dijuluki “Raja Jawa Tanpa Mahkota” oleh pemerintah kolonial, wafat pada 17 Desember 1934 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 1961. Adapun KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah dua kali berhaji dan menimba ilmu di Makkah, sebagaimana diulas dalam artikel KH Ahmad Dahlan di Makkah. Jejak para ulama, santri, dan tokoh bangsa dalam sejarah haji juga menjadi bahan gagasan Museum Haji Indonesia yang tengah dijajaki.

Bagi calon jemaah, mengenal jejak para tokoh ini dapat menambah makna perjalanan ke Tanah Suci: haji bukan hanya rangkaian ritual, melainkan juga tradisi yang di Nusantara pernah beriringan dengan semangat ilmu, pendidikan, dan perjuangan.

Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.

Related Post

Satu pemikiran pada “Hari Khidmat Kemenhaj dan Jejak Tokoh Haji Nusantara: Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Samanhudi”

Komentar ditutup.