ELHARAMAIN NEWS – Thaif, kota di Arab Saudi yang kerap masuk dalam daftar ziarah jemaah umrah, menyimpan salah satu bab paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di kota inilah beliau ditolak, diusir, dan dilempari batu, tetapi tetap menjawabnya dengan harapan, bukan dendam.
Menurut kajian sirah di NU Online, Thaif berjarak sekitar 60 mil dari Makkah. Rasulullah SAW berdakwah di sana selama 15 hari, sementara kajian NU Online lain yang merujuk Al-Mubarakfuri menyebut sekitar 10 hari, sehingga lama tinggal beliau memang berbeda antarriwayat. Pemuka Thaif, Ibnu ‘Abdi Yalil bin Kilab, menolak ajakan beliau dengan keras. Penduduk kemudian mengusir Rasulullah SAW dan melemparinya dengan batu hingga kaki beliau berdarah.
Dalam rangkuman NU Online tentang napak tilas Thaif, perjalanan itu terjadi pada Syawal tahun kesepuluh kenabian, tidak lama setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan paman beliau, Abu Thalib. Beliau ditemani sahabat Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, dan tujuan perjalanan itu adalah berdakwah sekaligus mencari perlindungan dari tekanan kaum Quraisy di Makkah.
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW baru menyadari arah langkahnya ketika tiba di Qarnuts-Tsa’alib, yang kini dikenal sebagai Qarnul-Manazil. Di sana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis al-Bukhari dan Muslim yang dirujuk NU Online, Allah mengutus Jibril ‘alaihissalam bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif. Rasulullah SAW menolaknya dan berkata, “Justru aku berharap dari keturunan mereka, Allah mengeluarkan orang-orang yang menyembah-Nya semata.” Sumber yang dikutip antara lain as-Sirah al-Halabiyyah karya Ali bin Ibrahim dan Shahih al-Qashash an-Nabawi karya Umar Sulaiman.
Harapan itu, menurut kajian tersebut, terbukti ketika dari keturunan penduduk Thaif lahir orang-orang yang kemudian memeluk Islam dan berjuang di jalan Allah. Kisah ini menempatkan Thaif sejajar dengan peristiwa lain dalam perjalanan dakwah beliau, seperti Hudaibiyah dan khutbah wada di Arafah, yang sama-sama mengajarkan kesabaran dan pandangan jauh ke depan.
Dokumentasi rombongan jemaah Elharamain Wisata menunjukkan kawasan gerbang Masjid Abdullah bin Abbas di Thaif sebagai salah satu titik kunjungan ziarah. Jemaah tampak berfoto bersama membawa spanduk di bawah terik matahari dengan payung di tangan, gambaran suasana kunjungan siang hari di kota tersebut.
Perlu dicatat, rincian peristiwa Thaif, seperti lama tinggal dan hal-hal yang terjadi di sana, bervariasi dalam riwayat sirah. Pembaca yang ingin mendalami disarankan merujuk kitab sirah dan kajian ulama yang kredibel.
Bagi jemaah yang berziarah ke Thaif, kisah ini menjadi bekal untuk menjaga adab dan kesabaran selama perjalanan: menghadapi cuaca, antrean, atau perbedaan watak sesama jemaah dengan lapang dada, sebagaimana teladan Rasulullah SAW yang membalas penolakan dengan doa dan harapan. Wallahu a’lam bisshawab.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.














