Jujur saat Tak Ada yang Melihat: Renungan dari Pesan Menhaj dan Hikmah Ihram serta Wukuf

elharamaindigital

Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal dengan seseorang membaca di dalam masjid

ELHARAMAIN NEWS – “Kadang khidmat adalah memilih untuk tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Di situlah integritas diuji.” Kalimat itu disampaikan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf kepada jajaran Kementerian Haji dan Umrah, tetapi maknanya menjangkau siapa saja, termasuk jemaah yang tengah menyiapkan perjalanan ke Tanah Suci.

Pesan tersebut disampaikan Menhaj dalam agenda Doa dan Zikir Hari Khidmat Haji dan Umrah di Jakarta, Senin (14/9/2026), sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi Kementerian Haji dan Umrah. Ia mengajak para aparatur bertanya kepada diri sendiri untuk siapa pekerjaan dijalankan. “Untuk siapa kita bekerja? Jawabannya sederhana, untuk jemaah,” ujarnya. Menhaj menegaskan, integritas bukan sekadar slogan, melainkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan dikerjakan.

Pesan kejujuran serupa tercermin dalam rangkaian ibadah haji. Naskah khutbah Jumat “Menggali Hikmah Ibadah Haji dan Kurban” di NU Online, yang ditulis Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, dan terbit pada 29 Mei 2025, menjelaskan bahwa ihram dengan dua lembar kain putih mengingatkan pada keadaan manusia ketika kembali menghadap hari perhitungan amal. Wukuf di Arafah dimaknai sebagai gambaran berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar dan kewajiban mempertanggungjawabkan amal, saat seseorang tidak bisa berbohong.

Khutbah itu mengutip firman Allah SWT dalam QS Yasin ayat 65, “Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka,” yang menggambarkan hari ketika tangan dan kaki bersaksi atas perbuatan manusia. Ia juga mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Barang siapa yang berhaji lalu ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Merujuk I’anatut Thalibin juz II halaman 310, khutbah tersebut mengingatkan pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa setiap rangkaian manasik haji mengandung hikmah, dan menyebut haji membentuk manusia yang tunduk kepada Allah (ta’abbudi) sekaligus beradab (ta’adubi).

Bila dua pesan itu dipertemukan, kejujuran saat tidak ada yang melihat adalah latihan kecil menuju hari ketika seluruh amal terbuka. Dalam perjalanan ibadah, ujian kejujuran bisa hadir pada hal-hal sederhana, seperti menepati janji, menjaga lisan, dan tidak mengambil hak orang lain. Pesan akhlak yang sejalan dapat dibaca pula dalam artikel haji mabrur terlihat dari akhlak dan tujuh bekal haji.

Bagi calon jemaah, persiapan terbaik bukan hanya koper dan dokumen, melainkan juga meluruskan niat serta membiasakan jujur dalam urusan kecil sejak di Tanah Air. Semoga ibadah yang dijalani menjadi bekal akhlak yang bertahan setelah pulang. Wallahu a’lam bisshawab.

Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.

Related Post