ELHARAMAIN NEWS – Perjalanan umrah dan haji sering dipersiapkan dengan matang, mulai dari biaya, kesehatan, hingga manasik. Namun, satu bekal yang paling halus dan paling menentukan nilai ibadah adalah ikhlas. Renungan ini bersumber dari khutbah Jumat di NU Online yang ditulis Muhammad Tantowi dan terbit pada 7 Mei 2025.

Khutbah itu mengingatkan bahwa ikhlas sering dipahami sebagai amal tanpa mengharap balasan dan hanya dikaitkan dengan ibadah ritual, sehingga ada orang yang tekun beribadah tetapi kurang berempati kepada sesama. Ikhlas diibaratkan ruh bagi jasad; ibadah tanpa ikhlas cenderung diabaikan Allah SWT. Dalilnya antara lain Surah Al-Bayyinah ayat 5: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut ikhlas sebagai perbuatan yang bersih dari campuran.
Mengutip Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nuruzh Zhalam, khutbah itu menguraikan tiga tingkatan ikhlas. Tingkat tertinggi adalah beribadah semata menunjukkan kepantasan sebagai hamba, tanpa mengejar pahala atau menghindari siksa. Tingkat menengah adalah beribadah dengan mengharap pahala dan surga serta selamat dari neraka. Tingkat terendah adalah beribadah dengan tujuan duniawi, tetapi khutbah tetap menyebutnya sebagai ikhlas yang berpahala di akhirat. Karena ikhlas adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya, seorang Muslim tidak boleh menghakimi orang lain sebagai tidak ikhlas.
Khutbah juga menegaskan bahwa ikhlas harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sosial, misalnya membantu lansia menyeberang jalan atau menyingkirkan duri dari jalan. Mengutip az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim, khutbah itu menyebut bahwa banyak amal yang tampak seperti amal dunia dapat menjadi amal akhirat karena baiknya niat. Renungan serupa tentang ibadah yang tidak diperlakukan sebagai transaksi dapat dibaca pada ulasan Ibadah Bukan Transaksi dan tentang kejujuran saat tak ada yang melihat pada renungan hikmah ihram dan wukuf.
Pemaknaan ini bersumber dari satu khutbah, sehingga pembaca yang ingin mendalami rujukan kitab sebaiknya bertanya kepada ulama atau pembimbing ibadah. Hingga artikel ini disusun, kami tidak memeriksa langsung halaman kitab yang dikutip khutbah.
Bagi calon jemaah, ikhlas dapat dilatih sejak sebelum berangkat: meluruskan niat, tidak menjadikan foto dan cerita perjalanan sebagai tujuan, serta tetap membantu sesama jemaah, terutama lansia, selama di Tanah Suci. Mohonlah kepada Allah agar amal kita diterima, dan kembali dengan akhlak yang lebih baik. Wallahu a’lam bisshawab.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.














