ELHARAMAIN NEWS – Iman, ilmu, ekonomi, dan akhlak disebut sebagai empat hal yang kini sama-sama menghadapi krisis dan menjadi tantangan umat. Pesan itu mengemuka dalam pengajian dan tausiah Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Maluku, yang menutup renungannya dengan peringatan Surah An-Nisa ayat 9 agar umat tidak meninggalkan generasi yang lemah.
Pengajian digelar di Masjid Murad Ismail, Asrama Haji Kelas II Ambon, Kamis (29/10/2026), diawali pembacaan Al-Qur’an bersama yang dipimpin Kepala Kanwil Kemenhaj Maluku, Djumadi Wali, sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi Kementerian Haji dan Umrah. Dari tausiah itu, ada pelajaran yang relevan bagi siapa pun yang sedang menata niat menuju Tanah Suci.
Krisis pertama yang disebut adalah krisis iman. Iman ditempatkan sebagai fondasi, dan fondasi itu dikuatkan lewat ibadah yang terus ditingkatkan, ketakwaan, serta keteguhan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah haji dan umrah pada hakikatnya adalah ikhtiar meneguhkan fondasi ini, bukan sekadar perjalanan.
Fondasi itu perlu ditopang ilmu. Kakanwil merujuk Surah Al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. “Para ulama mengingatkan, siapa yang menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Siapa yang menginginkan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya, juga dengan ilmu. Ibadah kita pun harus dilandasi ilmu,” ujarnya. Pesan ini dekat dengan kewajiban calon jemaah untuk mempelajari manasik sebelum berangkat.
Krisis ketiga menyangkut ekonomi keluarga. Keluarga, kata Kakanwil, perlu memiliki semangat bekerja, berani mengembangkan usaha, mengelola keuangan dengan bijak, dan menanamkan tanggung jawab ekonomi kepada setiap anggotanya. Bagi calon jemaah, ini mengingatkan bahwa kemampuan (istitha’ah) berhaji juga mencakup kesiapan nafkah keluarga yang ditinggalkan.
Krisis keempat adalah akhlak, yang wujudnya sederhana: saling menghormati, menjaga tutur kata, menghargai orang lain, dan bersikap santun. “Kecerdasan dan keberhasilan seseorang harus diimbangi akhlak. Ilmu dan jabatan baru bermakna kalau disertai kejujuran, tanggung jawab, dan kesantunan,” tutur Kakanwil. Di Tanah Suci, akhlak ini diuji dalam antrean, kepadatan tawaf, dan kehidupan bersama satu rombongan, sebagaimana diingatkan dalam renungan haji mabrur yang terlihat dari akhlak.
Keempat krisis itu, pesan Kakanwil, jangan sampai diwariskan. Ia merujuk Surah An-Nisa ayat 9 yang mengingatkan agar orang beriman khawatir meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka. Lemah di sini tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga lemah iman, ilmu, dan akhlak. “Jangan sampai krisis iman, ilmu, ekonomi, dan akhlak ini kita tinggalkan kepada anak cucu kita,” pesannya.
Jalan keluarnya, menurut Kakanwil, ada pada Al-Qur’an yang tidak cukup dibaca, tetapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja. Dari keluarga yang kuat iman, ilmu, ekonomi, dan akhlaknya, diharapkan lahir generasi yang sanggup menghadapi tantangan zaman.
Bagi calon jemaah haji dan umrah, renungan ini dapat menjadi daftar periksa sebelum berangkat: luruskan niat dan perbaiki ibadah, pelajari manasik dengan sungguh-sungguh, pastikan biaya dan nafkah keluarga tertata, serta latih kesabaran dan kesantunan sejak di Tanah Air. Sepulang dari Tanah Suci, keempatnya pula yang semestinya diwariskan kepada anak cucu.
Ingin berangkat umrah atau haji plus dengan bimbingan sesuai sunnah? Konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Elharamain Wisata melalui WhatsApp atau lihat pilihan paket.














